Pemberdayaan Peran Suami Sebagai Upaya Persuasif Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB)

Heni Frilasari, Indra Yulianti & Lasiyati Yuswoyani

Abstract


Angka kematian bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2017). Jumlah kematian pada bayi, selama tahun 2016 dilaporkan terjadi 15.698 kelahiran dan 80 kasus lahir mati. Kasus kematian bayi sebesar 190 (Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, 2017). Penyebab dari kematian bayi di Kabupaten Mojokerto paling banyak adalah diakibatkan oleh BBLR. Asfiksia, congenital dan diare (Profil Dinkes 2017). Selama tahun 2017 dilaporkan terjadi 16.394 kelahiran.Peningkatan kasus kematian bayi di tahun 2017 adalah 12,17 per 1.000 kelahiran hidup dan hal ini dikarenakan oleh adanya kasus BBLR, asfiksi dan congenital. BBLR atau bayi berat lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2.500 gram (Pantiawati, 2015). Berbagai upaya telah dilakukan Dinas Kesehatan dalam menurunkan angka kematian bayi, mulai dari diadakannya kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita, pengkajian kasus kematian ibu dan bayi oleh Tim Pengkaji (Dokter Spesialis Terkait), persalinan 4 tangan, pertemuan bidan dengan narasumber yang berkompeten dan pelatihan fasilitator kelas ibu balita, serta kelas bapak (Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, 2017).Keterlibatan peran suami sebagai partner dalam merawat bayi BBLR sehari hari di rumah, memberikan dampak positif dalam mendukung program pemerintah untuk menurunkan AKB.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.